Buku ini menghadirkan pembahasan mendalam mengenai bagaimana budaya Jawa membentuk, memengaruhi, dan menegosiasikan identitas keislaman pada era modern. Melalui studi ikonografi Masjid Raya Sheikh Zayed Solo sebuah bangunan monumental hasil kolaborasi Indonesia dan Uni Emirat Arab, penulis menelusuri jejak dialog kebudayaan yang berlangsung antara tradisi lokal Jawa dan estetika Islam global. Masjid ini menjadi titik temu penting yang merepresentasikan percampuran gagasan, simbol, dan nilai yang berkembang dalam masyarakat Muslim Jawa kontemporer.
Secara terstruktur, buku ini menguraikan elemen-elemen visual yang hadir dalam arsitektur masjid, mulai dari ornamen dan motif dekoratif hingga tata ruang dan lanskapnya. Setiap elemen dianalisis melalui pendekatan ikonografi dan kajian budaya untuk menunjukkan bagaimana simbol-simbol tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai estetika, tetapi juga sebagai representasi identitas, memori kolektif, serta cara masyarakat Jawa memaknai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Pembahasan dalam buku ini memperlihatkan bahwa Islam-Jawa bukan sekadar hasil dari pertemuan masa lalu, melainkan proses yang terus berlangsung dan bertransformasi. Masjid Raya Sheikh Zayed Solo menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat Jawa mengadaptasi pengaruh luar, menghadirkannya kembali melalui bahasa budaya sendiri, dan membangun bentuk baru ekspresi keagamaan yang sejajar dengan perkembangan global.
Ditulis dengan gaya yang ilmiah namun tetap komunikatif, buku ini tidak hanya relevan bagi akademisi, peneliti, dan mahasiswa yang bergelut dalam studi Islam Nusantara, arsitektur Islam, dan antropologi budaya, tetapi juga bagi pembaca umum yang ingin memahami dinamika hubungan antara agama, ruang, dan kebudayaan di Indonesia. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperkaya literatur mengenai identitas keagamaan di Jawa sekaligus memberikan perspektif baru mengenai bagaimana ruang ibadah dapat berfungsi sebagai simbol dialog budaya dalam masyarakat modern.



Reviews
There are no reviews yet.